Menyampaikan Amanah Berharap Berkah, Secara Mudah tanpa Susah

Kisah Keajaiban Sedekah


Suatu hari, seorang pengusaha datang ke konseling. Ia mengadukan bahwa bisnisnya sudah hancur. Dia mengaku tidak memiliki apa-apa lagi. Benar-benar telah habis-habisan. Ternyata, setelah diperhatikan lebih jauh, kemelaratan si pengusaha ini tidak seperti yang terbayangkan. Ia datang membawa mobil sedan Opel. Pemandangan ini sepintas sangat kontradiktif dengan pengakuan dia.

Sebelum menimbulkan penafsiran yang tidak-tidak, si pengusaha nyeletuk: “Mobil itu tinggal menunggu waktu untuk ditarik dealer.” Ia juga menceritakan bahwa sebagian besar pegawainya sudah dirumahkan. Hanya karyawan yang memahami diri dia yang masih bertahan. Di dalam konseling itu ditawarkan padanya solusi mengatasi kebangkrutan usaha dengan cara bersedekah. “Sebelum bicara banyak tentang solusi bagi bisnis itu sendiri, cobalah Bapak bersedekah. Sedekah itu menolak bala dan memperpanjang umur, di samping mengundang datangnya rezeki. Inilah point Kisah Keajaiban Sedekah”

“Apa maksudnya,” tanya dia.

“Bicara bisnis, bicara gampang. Kalau Bapak sudah dekat lagi dengan Allah, bisnis akan lancar lagi. Bapak mau minta tolong kepada Allah kan? Pendekatannya adalah lakukan dengan pendekatan ibadah. Salah satu yang disukai oleh Allah adalah kalau kita mau menolong sesama, meskipun saat ini kita terhitung orang yang susah.”

“Sedekah akan menolak bala. Kalau Bapak menganggap kebangkrutan Bapak adalah bala. Maka, insya Allah sedekah akan bekerja menyelamatkan Bapak dari kebangkrutan total. Sedekah juga bisa memperpanjang umur. Siapa tahu, menurut Bapak, Bapak sudah akan tamat riwayatnya sebagai pebisnis yang andal, beralih sebutan menjadi pebisnis yang bangkrut, kemudian malah bisa berubah kondisinya.”

“Perusahaan Bapak bisa bernapas lagi. Bisnis bergerak lagi. Dan Bapak tidak jadi ‘mati’. Dan, bahkan sedekah bisa mengundang datangnya rezeki. Siapa tahu pula perusahaan Bapak malah kebanjiran order yang Bapak tidak perkirakan sebelumnya. Bukankah Allah bisa memberikan jalan, bisa membukakan jalan, dari arah yang tidak disangka hamba-hamba- Nya?”

“Pak, nanti, kalau sudah menikmati hasil sedekah Bapak, berupa anugerah pertolongan dari Allah, Bapak pelihara sedekah itu menjadi pakaian utama, pakaian sehari-hari dalam berbinis. Sebab apa? Sebab sedekah akan menyembuhkan penyakit, akan menjaga diri dari penyakit. Dalam hal usaha, maka sedekah akan bisa membuat perusahaan terlindungi dari hal-hal yang bisa membuat merugi.”

Si pengusaha ini bingung. Sedekah di saat sulit bukanlah pilihan mudah. “Lagian saya kan nggak punya apa-apa?” begitu katanya.

“Itu. Opel?”

“Yah, mobil Opel itu kan sudah mau ditarik….”

“Nah, dari pada keburu ditarik? Kan lebih baik disedekahkan dulu. Diberikan kepada Allah.”

“Nanti saya pakai apa?”

“Itu tandanya bukan persoalan ditarik atau tidak, tapi persoalan Bapak masih berat melepas barang kesayangan yang mungkin tinggal satu-satunya. Iya kan?”

Todongan statemen tersebut membuat si pengusaha tak bisa mengelak, dan mengiyakan. Suka atau tidak suka, mobil itu memang akan ditarik. Sebab, sudah empat bulan ia menunggak cicilan. Setoran awal, yang semula terasa enteng, hanya kurang lebih Rp 8 juta-an sebulan, kini terasa sangat berat. Belum lagi harus bayar denda dan biaya tarik kendaraan yang selangit. Wuh, berat!

Namun, dia juga tidak pernah terpikirkan untuk menyedekahkan mobil tersebut. Dalam gambaran dia, memanfaatkan kendaraan itu sebelum ditarik oleh dealer adalah lumayan. Lagi pula, kalau nanti ditarik, ia akan bernegosiasi menjual sedan Opel itu, dan masih ada sisa cicilan yang bisa digunakan.

Setelah ngobrol sana ngobrol sini tentang sedekah, dan diyakinkan mengenai pintu-pintu rezeki dari Allah, pengusaha ini secara bulat akan menyedekahkan mobil dia. Berkas-berkas kredit dia kumpulkan, lalu melangkahkan kaki ke showroom. Dia jual Opel-nya kepada showroom mobil. Perusahaan itulah yang akan melunasi seluruh cicilan, termasuk yang nunggak. Selisih antara harga jual dan sisa cicilan inilah yang oleh si pengusaha disedekahkan.

Ajaib! Tidak sampai seminggu, ia kembali lagi berkunjung ke konseling. Kali ini, meski dia naik taksi, wajahnya berseri-seri. Ia kisahkan perjalanan hidup dalam seminggu ini. Awalnya dia mengeluh berat. Tanpa mobil ruang geraknya terbatas.

Ternyata, di balik kesulitan itu dia kedatangan seorang teman dari luar kota yang membawa mobil. Mengetahui bahwa si pengusaha tidak punya aktivitas usaha, dan tentunya memiliki waktu luang banyak, diajaklah muter-muter untuk bertemu si ini, si anu, dan sebagainya.

Buntut dari pertemuan yang tak disangka-sangka tersebut, “Saya dilibatkan untuk ikut berbisnis dengan kawan yang dari luar kota itu,” katanya dengan penuh semangat.

Benar. Allah memang Mahaluas. Dia akan menyediakan jalan-jalan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. “Jadi saya tidak lagi merasakan tidak punya mobil,” tuturnya. “Sebab, saya tiap hari masih pakai mobil.”

“Bahkan,” ia melanjutkan, “Dari hasil jalan bareng dengan kawan ini banyak order untuk perusahaan yang kemudian di-sub-kan ke perusahan saya.” Malah, dengan bangga pula ia kisahkan tentang beberapa karyawan yang dulu diistirahatkan telah dipanggil kembali mengerjakan proyek-proyek baru.

Rezeki memang datang dari arah yang tak disangka-sangka, jika Allah sudah menghendaki. Sekian artikel dengan judul terbaik “Kisah Keajaiban Sedekah“. Wassalam

Oleh ; Ust. Yusuf Mansur

TERBACA ( 13427 ) KALI
Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabipun bertanya : sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi ? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” [HR Thabrani]

Sumber : http://www.sahabatyatim.org

Belajar Dari Semut


Mengikuti jejak K.H. Zainuddin MZ yang tenar sebagai da’i sejuta umat, Aa Gym da’i “sejuta hati”, atau ustad Arifin Ilham yang identik dengan majelis zikir, nama Yusuf Mansur belakangan beken sebagai da’i penganjur sedekah. 

Dalam setiap tausiyahnya, penulis 30-an buku ini selalu mendengungkan kekuatan sedekah. Tema sedekah – dihubungkan dengan pemberdayaan ekonomi umat – tampak mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Penceramah jebolan IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat (“Ane enggak punya ijazah, brenti waktu nyusun skripsi,” katanya buka kartu dalam logat Betawi kental) ini pun laris bak kacang goreng.


“Bulan ini (Agustus 2006 – Red.), enggak ada hari tanpa tausiyah. Satu hari bisa lima sampai enam tempat,” aku seorang stafnya.

Yusuf kian identik dengan sedekah, setelah bareng rumah produksi Sinemart menggagas sinetron Maha Kasih. Sinetron yang ditayangkan sebuah stasiun teve swasta itu diangkat berdasarkan kisah nyata dan sarat pesan hikmah sedekah.

Yusuf juga pernah menjadi Duta Dompet Dhuafa dan Duta Bank Muamalat. Tahun 1999 – 2000, Yusuf bahkan aktif di Majelis Syifa, yang mempraktikkan terapi sedekah untuk penyembuhan penyakit fisik. Ceramah Yusuf terasa hidup, karena bapak dari dua orang anak ini selalu menyelipkan kisah nyata.

Sekali waktu, ia berkisah tentang seorang buruh yang bersedekah Rp 5.000,- di sebuah acara tausiyah. Eh, begitu sampai di rumah, ada orang kaya numpang buang hajat di kamar mandinya. Setelah berhajat, musafir tadi menyerahkan Rp 50 ribu buat “jajan” anak si empunya rumah. “Pak ustad, sedekah saya dibalas 10 kali lipat hari itu juga,” tutur sang buruh berkaca-kaca.

Yusuf juga fasih bertutur tentang kesaksian seorang office boy yang menyetor seluruh gaji pertamanya untuk ibunda tercinta. Esoknya, ia diganjar balasan setimpal, tak lebih tak kurang, Rp 600.000,-. Duit pengganti gaji itu didapatnya sebagai komisi jerih payah membantu menjualkan motor seorang teman. Setelah itu, selalu saja ada rezeki yang masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di akhir bulan istimewa itu, ia “gajian” sampai Rp 5 juta – Rp 6 juta.

Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut membentuk keyakinan Yusuf, bahwa kekuatan sedekah tidak main-main. Apalagi ia juga punya kisah sendiri. Akhir 1990-an, selama beberapa bulan, Yusuf sempat merasakan pahitnya tinggal di rumah tahanan. Ia terbelit utang.

“Pinjaman usaha yang mulanya sedikit, karena kebodohan saya, berbunga dan membengkak jadi lebih dari satu miliar. Orang Betawi bilang, bukan lagi gali lubang tutup lubang, tapi gali lubang tutup empang,” ujar pemilik blog beradres wisatahati.multiply.com ini menerawang.

Saat dibekap kesulitan itulah, ia mengalami dua pengalaman luar biasa. “Di tahanan suatu kali saya merasa sangat lapar. Enggak ada makanan. Yang ada cuma sedikit sisa roti, saya simpan di bawah bantal. Tapi begitu roti mau saya makan, tampak semut berbaris di tembok sampai lantai. Saya merasakan itu sebagai pertanda alam, lalu teringat hadis, yang artinya kira-kira, Allah akan membantu hambanya, selama hamba itu mau membantu yang lain.”

Tanpa pikir panjang, Yusuf menyerahkan sejumput roti itu pada gerombolan semut. Entah mengapa, ia begitu ingin bersedekah saat itu. “Lima menit kemudian, seorang sipir datang bertanya, ‘Suf, udah makan apa belum?’ Setengah percaya, saya menggelengkan kepala. Alhamdulillah, dalam hati saya tak putus-putusnya mengucap syukur,” imbuh Yusuf.

Kurasakan Nikmatnya Keajaiban Sedekah



Pengalaman ini ditulis oleh pembaca Vemale bernama Alma. Ia ingin berbagi kisah dan pelajaran dengan pembaca Vemale lainnya tentang keajaiban sedekah yang baru-baru ini dialami Alma. Yuk, kita simak kisahnya.

Dear Vemale dan sahabat pembaca.

Nama saya Alma dan saya sering membaca kisah inspiratif dari berbagai media. Kisah-kisah itu sangat menyentuh batin dan membuat saya lebih termotivasi untuk hidup lebih baik. Namun ketika kita mengalaminya sendiri, rasanya seperti keajaiban, ya?

Saya punya pengalaman saat saya masih sering bergulat dalam kehidupan masa remaja. Saya punya uang, tapi tidak tahu cara menggunakannya. Begitu uang itu habis, saya tidak sadar apa yang sudah saya lakukan.

Tiba-tiba sudah beli ini dan itu yang sebenarnya tidak begitu saya butuhkan. Atau sudah masuk perut dan bikin perut ini makin buncit. Sepertinya saya membeli kesenangan dengan uang yang saya miliki, namun hal itu jarang saya sadari dan tidak benar-benar membuat saya bahagia.

Saya hobi browsing di internet. Suatu hari saya menemukan bacaan-bacaan dari inspirator muda yang banyak muncul belakangan ini. Mereka mengisahkan banyak pengalaman nyata tentang sedekah. Rata-rata intinya, 'kalau sudah sedekah, nanti uangnya kembali lagi'. Itulah anggapan polos saya saat itu.

Saya melihat blog-blog mereka dan menemukan banyak foto orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kondisi saya sekarang. Mereka sakit, mereka ingin sekolah lebih dari kondisi yang mereka miliki saat ini. Saya tergerak ingin membantu meringankan masalah, ingin ikut membuat mereka tersenyum dan berbagai alasan yang tak terjelaskan dengan kata-kata.
Saya pun mulai menyisihkan uang, mungkin tidak banyak, namun semoga bisa membantu. Menurut saya, meski kecil, ada sebuah kebahagiaan dan kepuasan tersendiri ketika saya bisa berbagi dengan uang yang saya miliki.

Di sisi lain, saya tidak banyak merasa bahwa uang saya habis, meski pengeluaran saya bertambah. Ada keteraturan yang terjadi dalam keuangan saya, bahkan bukannya berkurang, malah semakin bertambah. Mungkin bukan dalam masalah jumlah, namun saya selalu bisa merasa cukup. 

Keajaiban Itu Ada
Saya percaya dengan hukum sebab akibat. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Namun saya tak pernah berpikir bahwa keajaiban akan datang pada saya . 

Suatu hari adik saya terlibat masalah utang hingga puluhan juta. Ia kalang kabut mencari pinjaman. Sebagai kakak, saya pun turut membantu. Namun kami bukan orang kaya yang punya banyak uang dan investasi. 

Selama satu minggu kami berpikir keras, mencoba mendapatkan tambahan uang. Sebagian besar gaji, saya berikan pada adik saya. Saudara yang lain pun ikut membantu.  Untunglah orang yang terlibat kasus hutang dengan adik saya mau memberikan toleransi waktu. 

Sedikit demi sedikit kami kumpulkan uang untuk menyicilnya. Untung saya terbiasa menyisihkan uang untuk sedekah, jadi tak terasa berat. Untuk sementara, kami memang harus tirakat. Menahan keinginan ngafe, karaoke, belanja ini itu. Lebih baik susah sekarang, pikir saya, daripada kami harus jatuh kepada lubang yang lebih dalam. Sayapun menyarankan pada adik agar lebih hati-hati menggunakan uang. 

Nominal uang itu sedikit-sedikit tidak etrasa saat digunakan, namun tanggung jawabnya sangat besar. "Iya, Kak. Maaf ya, Kak. Aku jadi nyusahin semua orang," kata dia dengan menyesal. "Sudah terjadi, Dek. Buat pembelajaran saja," kata saya. 

Rejeki itu selalu datang tepat pada waktunya. Tibalah hari di mana kami hampir tak punya uang lagi padahal sudah dekat jatuh tempo. Ternyata hari tersebut bertepatan dengan hari pembagian bonus kerja yang alhamdulillah bisa menutup kekurangan, bahkan lebih. 

Seperti ada tangan lain yang menyelesaikan permasalahan kami. Tak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan, seperti harapan dan keajaiban. Itulah apa yang saya pikirkan saat itu.

Saya tidak bilang bahwa uang ini datang dari langit sehingga saya katakan ini adalah keajaiban. Namun saya ingat kata bapak, "Rejeki itu sudah ada jalannya sendiri. Memang harus diusahakan dan sebisa mungkin yang barokah."

Jangan Takut Kekurangan
Dalam hidup, uang itu penting. Saya akui itu. Lebih penting lagi, untuk tahu bagaimana menggunakannya. Jangan blank saat berhadapan dengan apa yang kita miliki. Manfaatkan sebaik mungkin.

Dan saya percaya hidup ini harus dinikmati, tapi juga menjadi waktu mencari bekal untuk akhirat nanti. Dulu saya takut miskin. Tentu saja, karena uang saya tak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan saya yang tak terbatas. 

Namun berbagi dengan sedekah dan hati yang ikhlas tak akan membuat saya miskin. Itu adalah tabungan saya untuk kehidupan di akhirat kelak. 



(Kisah Nyata) Menjual Semua Hartanya untuk Sedekah, Malah Kaya Raya

Ini kisah nyata yang dialami teman guru SMA saya beberapa tahun yang lalu. Kisah ini berhubungan dengan sedekah yang dilakukan dengan keiklasan luar biasa. Bagi saya terdengar agak ganjil dan mustahil, tapi memang itulah kenyataannya. Sepasang suami istri yang menyedekahkan hampir semua hartanya di jalan Allah, kemudian hidup mereka dipasrahkan pada Allah. Luaaarrr Biasa

Pertama kali mendengar cerita ini, saya kurang percaya, tetapi melihat siapa yang menceritakan saya sangat mempercayai kebenaran cerita ini. Sayang sekali sewaktu saya dan guru SMA saya akan mampir ke rumah pengusaha ini, sang pengusaha sedang keluar rumah.

Kisah ini sebenarnya diawali kegundahan sepasang suami istri akan kebahagiaan yang mereka dapatkan dari harta yang dimiliki. Mereka seakan tidak merasa bahagia walaupun hartanya berlimpah. Bagi mereka, yang terpenting adalah ketenangan hidup. Akhirnya suami istri ini mengambil keputusan yang tergolong nekat. Mereka memberikan hampir semua hartanya untuk mereka sedekahkan di jalan Allah. Hanya satu tujuan mereka; ingin hidup tenang dan tidak terbelenggu dengan nikmat sementara duniawi. Mobil dan beberapa harta berharga lain mereka jual dan mereka sedekahkan. Mereka tidak takut akan kelaparan, karena mereka yakin Allah pasti akan menolong dan memberikan jalan terbaik bagi mereka.


Allahu Akbar ! Bukan kesengsaraan yang mereka dapatkan akibat membuang hampir semua harta mereka demi ingin memulai hidup sederhana itu, tetapi kekayaan suami istri ini malahan berlipat-lipat tak terhingga. Kini mereka mempunyai dua perusahaan besar, seakan-akan perusahaan yang dulu dijual untuk disedekahkan malahan diganti 2 perusahaan yang jauh lebih besar dan sangat terkenal oleh Allah. Kini mereka sangat bahagia dengan kekayaan yang mereka miliki. Lebih dahsyat lagi, sepasang suami istri ini ingin memulai lagi seperti yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Mereka akan menyedekahkan dua perusahaan itu, bukan imbalan Allah yang mereka harapkan, tapi perasaan sangat dekat dengan Allah danmerasa diperhatikan dan disayang Allah itulah yang tidak bisa digambarkan oleh mereka saat melakukan cara ini.

Sebenarnya langkah yang dilakukan oleh sepasang suami istri ini adalah langkah logis, cuma belum banyak orang yang berani melakukannya. Tentang sedekah Allah bahkan menjanjikan langsung akan melipat gandakan beberapa kali lipat jika manusia melakukannya dengan ikhlas hanya untuk Allah semata. Bahkan balasan atau pahala dari sedekah akan lebih berlipat-lipat lagi jika dilakukan untuk keperluan berjuang di jalan Allah. Semoga kisah di atas bisa membuka mata hati kita akan kekuatan sedekah. Sedekah seperti bernafas, kita harus mengeluarkan nafas kotor banyak untuk bisa menghirup udara bersih banyak pula. Jika mengeluarkan nafas kotor sedikit, akan sedikit pula udara bersih yang bisa kita hirup.
 
 
 

Kisah Nyata ( Kaya dengan Sedekah )

Tengoklah surat Al An’aam ayat 160 yang berbunyi, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”

Dari penjabaran ayat tersebut, Allah telah berjanji akan melipatgandakan segala bentuk amal perbuatan baik kita. Bahkan sampai sepuluh kali lipatnya. Apakah kita pantas meragukan firman Allah SWT tersebut?

Melengkapi rangkaian roadshownya ke berbagai daerah di Sumatra, Senin, 30 Mei 2005 lalu, Ustad Yusuf memenuhi undangan salah satu pejabat Pulau Batam, H. Soerya Respationo, SH.
Soerya, yang merupakan salah satu calon wakil gubernur ini (berpasangan dengan calon gubernur H. Nyat Kadir) dan istrinya Dra. Rekaveny adalah pasangan suami istri yang dikenal dermawan di Batam. Mereka tak pernah sungkan menggelontorkan sejumlah uang dari kocek untuk membantu wong cilik. Bahkan Soerya mendapat julukan “Bapak Wong Cilik”

Konon bisa sampai ratusan juta rupiah uang yang mereka alokasikan untuk membantu wong cilik Batam, setiap bulannya. Dan mereka melakukannya tanpa pilih-pilih dan tanpa pamrih. Mungkin itu sebabnya harta yang mereka miliki seolah tak habis sampai tujuh turunan.
Merasa memiliki kesamaan konsep dengan Ustad Yusuf Mansur, maka melalui Majelis Taklim Humairah yang dipimpin oleh Rekaveny sendiri, mereka sengaja mengundang ustad pemilik pesantren Daarul Quran ini.
Perhelatan besar ini termasuk mendadak. Kebetulan Yusuf Mansur sedang di kawasan Sumatra, alangkah baiknya jika ia bisa singgah di Batam. Tapi kala itu keluarga Soerya-Venny sedang sibuk sosialisasi di masyarakat Kepri (Kepulauan Riau). Niat baik Yusuf sempat ditunda sehabis Pilkada. Tahunya Venny tetap menyelipkan hal ini di sela rapat Majelis Taklimnya. Acara yang sedianya akan diadakan kecil-kecilan, berkembang menjadi besar di Masjid Raya Batam.
Langsung Venny dan anak buahnya mengatur semua, termasuk membuat undangan dan diumumkan di Batam Post sehari sebelumnya. Alhamdulillah sambutan jamaah luar biasa, masjid disesaki ratusan ibu-ibu untuk mendengar taushiyah ustad baby face ini.
Dalam taushiyahnya itu, Ustad Yusuf menuturkan sebuah kisah yang membuka mata dan hati kita akan makna sedekah. Dahulu kala ada seorang Imam yang bernama Hasan Basri. Suatu hari ia kedatangan enam orang tamu. Namun sayangnya ia hanya mempunyai sebuah roti untuk disuguhkan. Tentu saja tak mungkin membagi sebuah roti itu untuk keenam tamunya.
Tidak mau pusing, sang imam lantas memerintahkan pembantunya untuk menyedekahkan roti itu pada tetangganya yang lebih membutuhkan. Tak lama kemudian datanglah seorang tamu lagi sambil membawa dua buah roti untuk Hasan Basri, tapi ditolaknya!
“Roti ini pasti salah alamat, ini bukan untukku.” Jawab imam singkat, membuat tamu yang membawa roti tadi bingung dan pulang. Pembantu sang imam lantas bertanya, mengapa ia yakin sekali roti itu bukan untuknya.
“Karena kalau roti itu memang untukku, jumlahnya pasti sepuluh, bukan dua!” jawabnya lagi dengan tenang. Di tengah keheranan si pembantu, tamu yang membawa roti tadi kembali, kali ini telah menambahkan roti hadiahnya menjadi sepuluh buah. Rupanya sebelum pulang tadi, ia sempat mengetahui kalau sang imam sedang kedatangan tamu.
“Nah, ini benar untukku,” terima imam dengan senang hati. Maka kesepuluh roti tadi dibagikan kepada keenam tamunya, pembantunya, seorang anaknya, dan dua sisanya disimpan.
Dari kisah tersebut Allah telah menunjukkan betapa maha kayanya Dia. Allah pasti akan memberikan balasan setimpal atas perbuatan baik kita. Bahkan ustad Yusuf yakin benar kalau dalam waktu tujuh hari kita akan merasakan “hasil” dari sedekah kita.
“Banyak kejadian yang membuktikan itu. Dengan sedekah hutang menjadi lunas, miskin menjadi kaya, susah menjadi senang, masalah mendapat solusi.” Bebernya semangat.
Dari perjalanannya ke berbagai daerah, ustad ganteng yang suka memakai baju putih ini banyak menemukan fenomena keajaiban sedekah. Ketika sore harinya, menjelang Magrib, taushiyah dilanjutkan di kediaman Soerya, di kawasan Duta Mas, ustad Yusuf lalu menuturkan beberapa kisah ajaib itu.
Ada seorang temannya yang bernama Mubalighun. Suatu ketika ia ditimpa masalah berat. Karena selalu berhutang dan dikejar debt collector, istrinya tidak tahan dan minta cerai. Nah, pada suatu malam senin, dia merasa dunia akan kiamat baginya, karena pada keesokan harinya rumahnya akan disita, istrinya menunggu di pengadilan agama, dan anak sulungnya akan dikeluarkan dari sekolah akibat terlalu lama menunggak bayaran.
“Pokoknya Mubalighun depresi berat dan bahkan berniat bunuh diri malam itu juga,” paparnya.
Untungnya dia cepat beristighfar akan niat buruknya itu. Semalaman dia merenung dan teringat masih punya simpanan sekitar tiga ratus ribu rupiah. Mengingat janji Allah di surat Al An’aam itu, malam itu juga ia bagikan uang itu pada fakir miskin.
Masya Allah, esok paginya tanpa disangka ia kedatangan teman lamanya yang menawarkan pekerjaan, bahkan menyediakan dana awal sampai 25 juta rupiah. Dana yang lebih dari cukup untuk melunasi hutang-hutangnya dan menyelamatkan rumahnya dari sitaan. Tak disangkanya lagi, sepulangnya dari bank untuk menerima uang itu, tiba-tiba istrinya sudah ada di rumah bersama anak bungsunya.
Singkat cerita hari itu juga permasalahan Mubalighun selesai. Rumah tetap dimiliki, istri tak jadi menuntut cerai, dan anak sulungnya bisa tetap bersekolah. Padahal hanya 300 ribu rupiah yang disedekahkan Mubalighun, tapi lihatlah hasilnya, malah tak sampai tujuh hari.
Ada juga kisah seorang tukang bubur yang mengorbankan uangnya untuk biaya pengobatan orang tuanya. Apa yang terjadi? Begitu angka tabungannya di sebuah bank mencapai lima juta rupiah, ia mendapat hadiah sebuah mobil Mercy.
“Begitu banyak keajaiban yang terjadi gara-gara sedekah. Makanya sekarang jangan ragu sedekah. Jangan mikir uang tinggal sedikit, sedekahin saja. Justru semakin berat kita menyerahkan sejumlah uang untuk sedekah, Insya Allah balasan Allah semakin dasyat!”
Memang patokan tujuh hari itu tidak mutlak. Semua tetap tergantung Allah. Bisa lebih lama, bahkan lebih cepat. Tapi umumnya begitu. Syaratnya buka mata lebar-lebar untuk “merasakan” hasil sedekah itu.
Yang jelas, faedah sedekah ada empat, yaitu dapat menolak bala, mendatangkan rezeki, menyembuhkan penyakit, dan memanjangkan umur. “Kalau sampai tujuh hari kita merasa tidak mendapat apa-apa, bisa jadi kita dipanjangkan umur,” tambahnya lagi penuh keyakinan.
Dalam kesempatan ini, Ny. Hasyimah, istri H. Nyat Kadir, membenarkan fenomena keajaiban sedekah. Suatu hari dalam sebuah acara ia ingin menyumbang sejuta, tapi entah kenapa rasanya berat sekali mengeluarkan uang itu. Akhirnya ia hanya menyumbang 500 ribu, namun apa yang didapatnya? Sejak itu ada saja uangnya keluar untuk berbagai keperluan. Jumlahnya sampai berlipat. Andai saja ia jadi menyumbang sejuta, ia yakin keadaannya tak akan seburuk itu.
Sedekah Untuk Membangun Usaha Spiritual
Gaya ceramah ustad yang satu ini memang agak lain. Biasanya penceramah muncul dari depan atau samping panggung, ia justru datang dari belakang, menyapa jamaah paling belakang dan berjalan ke podium. Biasanya ia muncul sepuluh menit sebelum acara dimulai. Dan gaya orasinya san> gat provokatif, berapi-api, membakar semangat, membuat yang mendengarnya ingin langsung bertindak.
Dalam berceramah, ia tak hanya berdiri kaku di mimbar, ia akan berjalan menghampiri penonton dan berdialog dengan mereka. Suasananya jadi dialogis dan akrab. Itulah sebabnya acara tersebut lebih tepat diadakan di ruangan tertutup dan tanpa kehadiran anak kecil.
“Karena saya membutuhkan kefokusan mereka. Dengan hadirnya anak kecil yang lari-lari misalnya, sudah beda konsentrasinya,” jelasnya.
Ia juga kerap melengkapi taushiyahnya dengan simulasi dan permainan, supaya lebih menarik dan menghibur. Tapi hasilnya luar biasa. Jangan heran kalau sekali ceramah di hotel berbintang, bisa ratusan juta terkumpul untuk sedekah.
“Yang nggak bawa uangpun tidak sungkan menyerahkan hp, jam tangan, perhiasan, cek, bahkan tak jarang banyak yang menenteng tangan saya menuju ATM,” ujarnya tertawa.
Uang dan barang yang terkumpul itu lalu ia serahkan ke panitia setempat untuk disumbangkan pada yang membutuhkan. Itu sengaja ia lakukan agar ia tak dicap sebagai ustad pembawa uang sedekah.
Setiap insan perlu mempelajari ilmu sedekah. Meskipun terdengar sederhana dan simpel, tapi sedekah mampu membangun usaha spiritual. Walaupun terdengar tak lazim tapi sedekah mampu membersihkan harta yang kita miliki dan mampu menggolkan proyek yang kita incar, Insya Allah.
Ambillah contoh, anda sebagai seorang pengusaha sedang mengincar sebuah proyek. Biasanya dalam dunia bisnis, orang suka main sikut sana-sikut sini, menyogok, atau memakai uang pelicin. Sekarang gantilah sogokan anda dengan membiayai seribu anak yatim piatu dan anak jalanan. Kalau kita boleh bergurau sama Allah, istilahnya kita menyogok-Nya. Insya Allah proyek itu gol. Karena Allah yang memiliki dunia dan seisinya, maka berharaplah dari-Nya, jangan dari manusia. Apa yang bisa manusia berikan pada kita?
Sekarang bayangkanlah keuntungan yang akan anda dapatkan jika berhasil dalam suatu hal, maka langsung saja 2,5%nya disedekahkan dimuka. Misalnya anda akan memperoleh seratus juta, maka sebelum memperoleh keuntungan itu, gelontorkanlah uang dari kocek anda sejumlah dua setengah juta rupiah untuk sedekah. Tidak besar, kan?
Kalaupun setelah sedekah, proyek anda tetap gagal, yakinlah ada hikmah dibalik itu dan yakinlah Allah akan menggantinya dalam bentuk lain. Karena Dia lebih tahu yang terbaik buat kita dan apa yang kita harapkan belum tentu yang terbaik.
Hal ini pernah dialami oleh seorang pengusaha bijih plastik. Saat itu ia ingin sekali tendernya di suatu wilayah tembus. Sebagai ganti sogokan ke pemda setempat, ia memilih sedekah. Namun apa yang terjadi? Ia tak mendapatkan tender tersebut. Kecewa? Pasti! Dan itu wajar dialami manusia. Di tengah kekecewaan itu ia mampir di sebuah restoran untuk makan siang. Tanpa disangkanya salah seorang teman SMA-nya juga makan di sana dan ajaibnya mereka berusaha di bidang yang sama. Akhirnya terjalin kesepakatan di antara mereka untuk berbisnis dan si teman langsung meneken cek sebagai uang muka. Subhanallah bukan?
Jadi, apa anda masih meragukan faedah sedekah? Bukan hanya orang kaya yang wajib sedekah, yang merasa miskinpun harus sedekah kalau menjadi kaya. Yang mau sembuh dari penyakitnya, sedekah! Yang mau melunasi hutangnya, sedekah! Yang mau mendapatkan solusi dari masalahnya, sedekah! Karena sedekah bisa memancing rezeki. Jangan ragu dengan firman Allah.
Tapi anda harus sedekah dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Janganlah sekali-kali mengungkit pemberian anda, jika pihak yang telah anda sedekahkan suatu saat berbalik menyakiti anda.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu denga menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa y> ang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu.” (QS. 2:264)

Meraih Kesejahteraan Finansial dengan Pendekatan Spiritual

Kekayaan masih menjadi pesona bagi sebagian besar manusia. Sebab kekayaan membawa kepada pintu segala kesenangan dan kebahagiaan. Kekayaan juga berarti kesempatan untuk menjadikan standar hidup menjadi lebih baik. Belum lagi kenyataan yang ''dikondisikan'' oleh manusia itu sendiri, bahwa kekayaan terkait dengan masalah posisi, status sosial dan kehormatan.

Wajar kemudian bila kekayaan begitu banyak menggoda manusia. Dan ditemukan kemudian, tidak sedikit manusia yang mengorbankan sisi kemanusiaannya dan mengabaikan keberadaan Tuhannya dalam kerangka pencarian dunia. Itu sebabnya, kekayaan juga bisa dalam sekejap berubah menjadi neraka dunia !

Bagaimana cara menghindari hal tersebut? Menurut Pimpinan Wisata Hati, Yusuf Mansur, menjadi kaya adalah sebuah keinginan yang wajar-wajar saja, sebagaimana keinginan untuk menjadi orang yang sukses baik secara pendidikan, jabatan dan lain sebagainya. ''Toh biar bagaimanapun, tidak ada larangan menjadi kaya -- harus malah -- asal bisa tetap bersyukur lagi saleh,'' tegas Yusuf Mansur saat memberikan ceramah tentang Financial Healing: Jawaban Bagi 1001 Masalah dan Keinginan yang diadakan oleh PT Telkom Bandung, di Bandung, Selasa (31/5).
 
 
Acara yang dihadiri oleh ratusan Pegawai Telkom Bandung itu merupakan kerja bareng Telkom Bandung, DAR! Mizan, dan Wisata Hati. ''Dan untuk mengiringi langkah pencarian kekayaan itulah manusia perlu diingatkan, dan diberikan pengarahan yang jelas. Tujuannya, bagaimana bisa menjadi kaya tanpa harus memiskinkan hati. Apalagi bila memiskinkan orang lain,'' tegas Yusuf Mansur.

Sebelumnya, saat berceramah di Masjid Raya Batam Centre, Batam, Senin (30/5), Yusuf Mansur mengupas tema ''Fenomena Keajaiban Sedekah (Membangun Usaha dengan Spiritual). Acara tersebut diadakan oleh Majelis Taklim Humairah Kota Batam, yang dipimpi oleh Ny Rekaveny Soerya, dan dihadiri oleh ribuan jamaah yang datang dari Batam dan sekitarnya.

Penulis seri buku Wisata Hati itu mengaku yakin benar bahwa bersedekah adalah kunci utama untuk menjadi kaya dan sukses. ''Banyak kejadian yang membuktikan itu. Dengan sedekah utang menjadi lunas, miskin menjadi kaya, susah menjadi senang, masalah mendapat solusi,'' ujarnya penuh semangat.

Dari perjalanannya ke berbagai daerah, ustad muda kelahiran Jakarta tahun 1976 itu banyak menemukan fenomena keajaiban sedekah. Karena itu, kata dia, setiap insan perlu mempelajari ilmu sedekah. ''Meskipun terdengar sederhana, sedekah mampu membangun usaha dengan jiwa spiritual. Walaupun terdengar tak lazim tapi sedekah mampu membersihkan harta yang kita miliki dan mampu menggolkan proyek yang kita incar, Insya Allah,'' tuturnya.

Dia lalu mencontohkan tentang seorang pengusaha sedang mengincar sebuah proyek. Biasanya dalam dunia bisnis, orang suka main sikut sana-sikut sini, menyogok, atau memakai uang pelicin. ''Sekarang gantilah sogokan Anda dengan membiayai seribu anak yatim piatu dan anak jalanan. Kalau kita boleh bergurau sama Allah, istilahnya kita menyogok-Nya. Insya Allah proyek itu gol. Karena Allah yang memiliki dunia dan seisinya, maka berharaplah dari-Nya, jangan dari manusia,'' ujarnya.

Sekarang, kata dia, bayangkanlah keuntungan yang akan Anda dapatkan jika berhasil dalam suatu hal, maka langsung saja 2,5 persen disedekahkan di muka. ''Misalnya anda akan memperoleh seratus juta, maka sebelum memperoleh keuntungan itu, gelontorkanlah uang dari kocek anda sejumlah dua setengah juta rupiah untuk sedekah. Tidak besar, kan? Inilah contoh implementasi membangun usaha dengan spiritual,'' paparnya.

Saat berceramah di rumah Soerya Respationo, salah satu calon wakil gubernur Batam (mendampingi calon gubernur H. Nyat Kadir), Senin (30/5) malam, Yusuf Mansur menuturkan beberapa kisah ajaib bersedekah. Misalnya, kisah seorang lelaki bernama Mubalighun yang ditimpa masalah berat. 
 
Karena selalu berutang dan dikejar debt collector, istrinya tidak tahan dan minta cerai. Pada suatu malam, dia merasa dunia akan kiamat baginya, karena pada keesokan harinya rumahnya akan disita, istrinya menunggu di Pengadilan Agama, dan anak sulungnya akan dikeluarkan dari sekolah akibat terlalu lama menunggak bayaran. Pokoknya Mubalighun depresi berat dan bahkan berniat bunuh diri malam itu juga. ''Syukurlah dia sadar, dan teringat uang simpanannya sebesar Rp 300 ribu. Malam itu juga ia sedekahkan uang tersebut kepada fakir miskin. Keesokan harinya dia mendapatkan rezeki besar yang tak disangka-sangka, sehingga rumah tetap dimiliki, istri tak jadi menuntut cerai, dan anak sulungnya bisa tetap bersekolah,'' tuturnya.

Ada juga kisah seorang tukang bubur yang mengorbankan uangnya untuk biaya pengobatan orang tuanya. Apa yang terjadi? ''Begitu angka tabungannya di sebuah bank mencapai lima juta rupiah, ia mendapat hadiah sebuah mobil Mercy,'' kata Yusuf Mansur.

Ny. Hasyimah, istri H. Nyat Kadir, membenarkan fenomena keajaiban sedekah. Suatu hari dalam sebuah acara ia ingin menyumbang sejuta rupiah. Entah kenapa rasanya berat sekali mengeluarkan uang itu. Akhirnya ia hanya menyumbang 500 ribu, namun apa yang didapatnya? Sejak itu ada saja uangnya keluar untuk berbagai keperluan. Jumlahnya sampai berlipat. ''Andai saja saya jadi menyumbang sejuta, saya yakin keadaannya tak akan seburuk itu,'' tandas Ny Hasyimah.

Ny Rekavenny Soerya juga berceritabanyak mengenai keajaiban-keajaiban sedekah, terlebih setelah mendengarkan berbagai ceramah. ''Pengalaman hidup kami membuktikan bahwa pendekatan spiritual, khususnya sedekah, merupakan kunci untuk meraih kesejahteraan finansial,'' papar Ny Rekavenny.
 

INGIN RUMAH SENDIRI? BERSEDEKAHLAH

Terbakar Ceramah
Muhamad Mahmudin Setiap niat yang kuat untuk menggapai sesuatu pasti akan berhasil. Itu filosofi yang dipegang Muhammad Mahmudin (38). Sejak kecil Udin, demikian sapaan akrabnya, dihadapkan pada kehidupan prihatin. “Saya sejak kecil biasa prihatin dengan berjualan saat teman-teman sebaya menikmati masa-masa penuh ceria dengan bermain, ternyata kondisi saat dewasa dan berumah tangga ada perbedaan antara mereka yang lebih banyak bermain dengan yang biasa berjualan,” ujar Udin yang lahir di Bogor, 5 Juni 1973 ini. Meskipun pengalaman adalah guru terbaik, Udin melihat perjalanan bisnisnya tergolong lambat. Entah kenapa, Udin mencoba instrospeksi diri. Ia nyaris melihat jalan ke depan begitu gelap. Sampai kemudian episode kehidupannya berjumpa dengan amal ibadah bernama sedekah. 

Begini ceritanya.... Pada perayaan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw tahun 2006, Panitia Perayaan Isra’ Mi’raj Masjid Al-Ikhlash mengundang Ustadz Yusuf Mansur. Ustadz yang mendalami aspek-aspek penting dari amal bernama sedekah, menceritakan fakta-fakta tentang keajaiban sedekah. Diantara jamaah masjid Al-Ikhlash yang berlokasi di Dusun Leuwikopo RW 02 Desa Babakan IPB Dramaga Bogor tersebut, adalah Muhamad Mahmudin. Saat Ustadz Yusuf Mansur berceramah itulah, Udin gelisah. 

Bukan karena ‘panas’ karena ayat-ayat al-Qur’an atau hadits-hadits nabi yang sempat disitir Ustadz. Tetapi Udin ‘panas’ untuk tidak segera pergi menjalankan petuah-petuah ustadz Yusuf. “Tak pikir panjang lagi, belum lagi ceramah berakhir, saya pergi keluar masjid,” tutur suami dari Sri Mulyati (33) ini. Kemana Udin menyelinap pergi? “ Saya menyelinap pergi ke ATM BNI untuk transfer ke rekening PPPA Darul Qur’an,” papar ayah dari Rifa Awalunnisa(7 th), Sabila Syahiratunnisa (5 th), Hanifatunnisa Mubina (mau 3 th) dan Siti Nafisaturrobi’ah (1 Th). Tak tanggung-tanggung, Udin transfer Rp 1,2 juta ke rek PPPA. “Saya hanya terharu, bahwa PPPA adalah lembaga yang akan menelurkan generasi hafiz Qur’an. Lembaga ini wajib dibantu. Kedua, saya penasaran juga dengan ‘teori’ sedekah yang dipaparkan ustadz Yusuf Mansur. Walaupun habis itu saya melupakan sedekah saya itu,” tuturnya. Memang, tutur Udin lagi, jauh sebelum ia bersedekah, ada niat begitu besar untuk mempunyai rumah sendiri. 

Udin punya prinsip, setelah berkeluarga apalagi sampai punya momongan, tinggalnya harus terpisah dari orangtua. Cukup lama Udin tinggal di kontrakan. Sampai tercetus cita untuk membuat atau membeli rumah. Niat itu diwujudkan dalam bentuk perencanaan yang matang. Pertemuan dengan Ustadz Yusuf Mansur, seolah menjadi akselerator cita-citanya. Anjuran sedekahnya, menghujam ke dada. “Dengan keyakinan bulat, saya bersedekah, dengan harapan Allah Yang Maha Kaya mempercepat cita-citanya memiliki rumah,” katanya. “Subhanallah, Mas..tak sampai setahun cita-cita memiliki rumah terwujud. 

Saya benar-benar surprise. Ini bukan kehebatan saya, tapi resep Allah yang pasti benar: bahwa sedekah bisa jadi solusi problem hidup manusia,” simpul Udin. Kini keyakinan Udin semakin kuat. Keropak mesjid tempat Udin tinggal, tak pernah luput dari sedekah para dermawan termasuk Udin. ”Bersedekahlah, tidak harus banyak. 

Seribu, dua ribu, lima ribu, jadikan itu kebiasaan. Insya Allah rezeki kita akan dilancarkan oleh Allah. Bersedekah itu berniaga dengan Allah. Adakah berniaga yang lebih menguntungkan selain berniaga dengan Allah? Tidak ada.. Berniaga dengan Allah, pasti menguntungkan,” ujar Udin bertaushiah. “Syaratnya, ikhlas dan intensifkan ibadah yang lain!” tambahnya. Udin berujar, jangan tunda bersedekah. Karena juga akan menunda rezeki dari Allah. Udin memaparkan pengalamannya, semakin cepat bersedekah semakin cepat Allah membalasnya. “Saya yakin rezeki berupa kepercayaan orang kepada saya dan juga beberapa teman saya untuk menggarap suatu usaha yang memberi profit lumayan, adalah karena sedekah ini. Termasuk betapa mudahnya saya mendapat fasilitas dari Allah beruapa mobil,” tukasnya.[ApikoJM]

Sumber: http/makelarsedekah.com

Akibat Memakan Makanan yang Haram

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggal dan sekaligus untuk mendapatkan mata pencaharian. Dia ciptakan siang untuk mencari penghidupan dan malam untuk istirahat dan beribadah kepadaNya”Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS An-Naba’: 10-11).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kepada kita untuk bekerja: “Tidaklah sekali-kali seseorang makan suatu makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil tangannya sendiri.” (HR. Al-Bukhari).
Islam juga memerintahkan agar di dalam mencari rizki itu dengan cara yang baik dan halal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah: 172). Dalam ayat lain, artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah syetan, karena syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 168).
Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa ketika dia (Ibnu Abbas) membaca ayat:
berdirilah Sa’ad bin Abi Waqash kemudian berkata: “Ya Rasulullah, do’akan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya oleh Allah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya (HR. At-Thabrani) (Lihat Ad-durar Al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur Juz: II hal. 403).
Dari hadits di atas dapat kita ambil kesimpulan:
1. Perintah dari Allah agar memakan makanan yang halal.
2. Makanan yang halal merupakan sebab terkabulnya do’a.
3. Salah satu dampak dari memakan yang haram adalah tidak diterimanya amalan kita.
Perintah Memakan Yang Halal
Tentang perintah untuk mencari yang halal dan memakan yang halal, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memerintahkan kepada para RasulNya dengan firmanNya, yang artinya: “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yangbaik-baik dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mukminun: 51).
Maksud makan yang baik di sini adalah yang halal. Yang demikian itu diperintahkan terlebih dahulu sebelum mengerjakan amal shaleh, karena dengan memakan yang halal akan membantu untuk melaksanakan amal shaleh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang larangan mendapatkan harta dengan cara yang haram, artinya: “Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan cara yang batil.” (QS Al-Baqarah: 188).
Sebab Tidak Terkabulnya Do’a
Sesungguhnya manhaj Islam dalam hal makanan adalah sebagaimana manhaj Islam dalam masalah yang lainnya untuk menjaga akal, jiwa dan raga. Diperbolehkannya makanan yang halal adalah karena bermanfaat bagi badan dan akal. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para hambaNya agar meninggalkan makanan yang kotor dan haram karena akan berpengaruh negatif terhadap hati, akhlaq dan menghalangi hubungan dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala , serta menyebabkan tidak terkabulnya do’a.
Dalam sebuah hadits disebutkan: Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik.” Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman, seperti Dia perintahkan kepada para rasulNya dengan firmanNya, yang artinya:
“Wahai para Rasul, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. Dan firmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik, dan bersyukurlah kamu kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.”
Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut lagi berdebu. Orang tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Ya Tuhanku .. Ya Tuhanku ..” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan baju yang dipakainya dari hasil yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?” (HR. Muslim, shahih).
Hadits di atas menerangkan bahwa makanan yang haram merupakan sebab tidak terkabulnya do’a.
Pengaruh Makanan Haram
Hendaknya kita bertaqwa kepada Allah dengan cara memakan makanan yang halal dan menjauhi makanan yang haram. Karena makanan yang baik itu mempunyai pengaruh yang besar bagi manusia, terhadap akhlaqnya, kehidupan hatinya dan jernihnya pandangan serta diterimanya amal-amal kita. Sedangkan makanan yang haram mempunyai dampak buruk bagi manusia, yang kalaulah dampak itu hanyalah tidak dikabulkannya do’apun niscaya hal itu merupakan kerugian yang besar. Karena seorang hamba tidak lepas dari kebutuhan berdo’a kepada Allah.
Di samping itu masih ada dampak lain dari memakan yang haram, yaitu tidak diterimanya amal-amal yang telah kita laksanakan.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
Dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memperoleh harta dengan cara yang haram, kemudian ia shadaqahkan, maka tidak akan mendatangkan pahala, dan dosanya ditimpakan kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya dengan sanad hasan).
Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu berkata: “Barangsiapa membeli baju dengan sepuluh ribu dirham, namun dari sepuluh ribu dirham tersebut ada satu dirham yang haram, maka Allah tidak menerima amalnya selama baju itu masih menempel di tubuhnya.”
Ibnu Abbas radhiyallah ‘anhu berkata: “Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya ada sedikit makanan haram.”
Para salafus shalih sangat berhati-hati sekali terhadap apa-apa yang akan masuk ke dalam mulut dan perut mereka. Mereka amat bersikap wara’ di dalam menjauhi hal-hal yang syubhat apalagi yang haram.
Dalam kitab shahih Al-Bukhari disebutkan, ‘Aisyah radhiyallah ‘anha menceritakan bahwa Abu Bakar mempunyai pembantu yang selalu menyediakan makanan untuknya. Suatu kali pembantu tersebut membawa makanan maka iapun memakannya. Setelah tahu bahwa makanan tersebut didapatkan dengan cara yang haram, maka dengan serta merta ia masukkan jari tangannya ke kerongkongan, kemudian ia muntahkan kembali makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Imam An-Nawawi ketika hidup di negeri Syam, ia tidak mau memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang menanyakan tentang sebabnya, maka ia menjawab: Di sana ada kebun-kebun wakaf yang telah hilang, maka saya khawatir memakan buah-buahan dari kebun tersebut.
Makanan haram bisa disebabkan memang dzatnya yang haram, seperti: bangkai, daging babi, darah dan sebagainya. Atau karena haram cara mendapatkannya, seperti dengan cara mencuri, riba, curang dalam jual beli, korupsi, suap dan lain sebagainya. Praktek-praktek mendapatkan harta dengan cara yang haram dapat dengan mudah kita saksikan di zaman ini. Perampokan, penipuan, riba, korupsi, kolusi dan yang lainnya hampir-hampir selalu diekspos tiap hari oleh koran-koran dan televisi atau media lainnya. Seolah-olah hal ini sudah merupakan masalah yang biasa. Segala macam cara akan digunakan manusia dalam rangka untuk mendapatkan harta yang sebanyak-banyaknya.
Rasulullah telah bersabda: “Akan datang suatu zaman, sese-orang tidak akan peduli terhadap apa yang ia ambil, apakah itu halal atau haram.” (HR. Bukhari).
Padahal harta yang haram itu selain berdampak tidak terkabulnya do’a dan ditolaknya amal, ia juga merupakan sebab mendapatkan adzab Allah di akhirat nanti. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa tidak bergerak dua telapak kaki anak cucu Adam di hari kiamat nanti sampai ditanya (salah satunya) tentang hartanya darimana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan. (untuk matan lengkapnya lihat Sunan At-Tirmidzi, hadits no.2417).
Maka hendaknya kita bermuhasabah, introspeksi diri. Berapa banyak do’a yang telah kita panjatkan kepada Allah, berapa banyak istighotsah digelar dalam rangka mengatasi berbagai krisis yang mendera bangsa kita, dan berbagai bencana yang menimpa negeri kita. Namun pada kenyataannya bencana demi bencana tetap melanda, berbagai krisis tidak teratasi dan berbagai kesulitan tak kunjung usai. Mungkinkah ini karena bangsa Indonesia sudah terbiasa dengan praktik-praktik mendapatkan harta dengan cara yang haram? Sudah terbiasa mengkon-sumsi barang-barang haram, sehingga Allah tidak mengabulkan do’a-do’a kita? Wallahu A’lam bish Shawab. (Qodri Fathurrohman)
 

Sedekah Bisa Bikin Kaya

sedekah bisa bikin kaya
Keuntungan bersedekah - banyak sekali keuntungan dan manfaat dalam bersedekah. Bener gak sih sedekah itu bisa buat kita kaya? Ini pertanyaan yang pernah saya dengar di beberapa tausiah atau ceramah - ceramah pada Umum nya yang membahas materi tentang Sedekah. Dengan artikel ini saya akan mencoba sedikit membahas tentang sedekah bisa bikin kaya.

Pada dasarnya ilmu sedekah ini sangat luas dan tidak cukup dengan satu artikel ini untuk meyakinkan anda bahwa sedekah itu bisa bikin anda kaya. Awal pertama saya mengenal ilmu sedekah bisa bikin kaya ini, saya dapat dari buku mas ippho yang berhasil bersedekah sebesar empat miliyar rupiah ( Patungan sama peserta seminarnya ).

Setelah membaca buku dari mas Ippho dan beberapa ceramah dari K.H Yusuf mansur saya pun bisa mengambil kesimpulan bahwa sedekah itu bisa bikin kita kaya (syarat dan ketentuan berlaku). Mungkin anda meyalahkan atau menolak kesimpulan saya bahwa sedekah bisa bikin kita kaya. Memang sebagian besar teman -teman semua yang pernah saya beritahu tentang sedekah bisa bikin kaya 80 % dari mereka menolak kesimpulan saya ini.

Banyak yang mengatakan kepada saya bahwa kalo kita sedekah kita bisa kaya itu tidak masuk akal. Menurut saya pernyataan tidak masuk akal ini sangat menyakitkan buat saya, karna secara tidak langsing orang itu telah meremehkan allah atau tidak percaya dengan keajaiban Allah swt. Padahal jelas dalam al-quran bahwa allah akan mengganti atau melipat gandakan uang yang anda sedekah kan di jalan allah (kurang lebih seperti itu).

Jadi bila anda berfikir bahwa sedekah bisa bikin anda kaya itu tidak masuk akal, saya katakan bahwa anda Salah !!!. Akal anda saja yang belum masuk atau belum mengerti tentang keuntunggan atau manfaat bersedekah ini. Dalam tausiah UST. Yusuf mansur pada sebuah acara televisi dia mengatakan bahwa kalau kita sedekah satu, maka allah akan menggembalikan sepuluh kali lipat dari yang anda sedekah kan (syarat dan ketentuan berlaku).

Kalau anda beriman kepada Allah swt, anda harus percaya bahwa sedekah itu bisa melipatgandakan uang yang anda sedekah kan. Karna itu janji allah di dalam al-quran, mas Ippho dan UST. Yusuf mansur itu hanya menyampaikan isi dalam al-quran dengan cara mereka masing -masing. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menerima apa yang mereka sampaikan karna apa yang mereka sampaikan itu mempunyai dasar yaitu al-quran (kitap suci yang telah di sempurnakan dari kitap - kitap sebelumnya).

Sebenarnya awal saya membuat artikel ini, saya ingin menyampaikan sayarat dan ketentuan dalam bersedekah yang bisa membuat anda kaya. Tetapi rasanya percumah bila anda tau syarat dan ketentuan nya tetapi anda tidak yakin dengan apa yang saya sampaikan. Maka dari itu didalam artikel ini saya hanya meyakinkan anda bahwa sedekah itu bisa bikin anda kaya.

Untuk syarat dan ketentuan bersedekah, saya akan menyampaikan nya di lain waktu. Sebaik nya sebelum anda berusaha untuk kaya dengan jalan sedekah, anda harus beriman terlebih dahulu kepada allah, cari alasan yang tepat mengapa anda harus beriman kepada allah.

Mungkin sekian dulu artikel tentang sedekah bisa bikin kaya ini, bila anda sudah yakin dan ingin mendapatkan syarat dan ketentuan dalam bersedekah yang bisa membuat anda kaya, sebaiknya anda berlangganan artikel dari blogsolu ini, karena insya allah di pertemuan selanjutnya saya akan memberikan syarat dan ketentuan bersedekah. Untuk berlangganan artikel dari blog solu anda bisa baca di bawah ini.

Puisi WS Rendra Menjelang Wafat



Menjelang wafat, WS Rendra sempat meninggalkan beberapa puisi yang sangat menginspirasi, dia tulis sambil terbaring sakit, salah satunya adalah…
Renungan Indah…
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya


Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?


Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku


Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukum bagiku


Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.


Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"....


................
Lain hari aku bermimpi, kalkulatorku jebol ketika aku hitung-hitungan dengan Gusti Allah… dan aku jadi maluuuu sekali mengharap sedekahku langsung berbalas esok hari…

Kisah Bersedekah Ali bin Abi Thalib

Banyak orang yang bersedekah, tapi beranikah bersedekah dengan nominal yang lebih besar? Pertanyaan ini yang sulit dijawab. Tapi kita perlu belajar juga dari kisah orang-orang yang berani bersedekah dengan nominal yang lebih besar. Salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib. Ia memiliki kisah yang menakjubkan saat bersedekah.

Kisah sedekah Ali bin Abi Thalib ini bisa dibaca di dalam kitab al-Mawaaidz al-Ushfuuriyyah. Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad yang mendapat cerita dari ayahnya yang mendengar dari kakeknya mengenai perilaku Ali.

Suatu hari setelah pulang dari rumah Rasulullah, Ali melihat Fatimah sedang berdiri di teras rumah.

“Hai isteriku, apakah ada makanan hari ini untuk suamimu?” tanya Ali.

“Demi Allah, aku tak memiliki apa-apa kecuali uang enam dirham, hasil upah memintal bulu-bulu domba milik Salman al-Farisi. Dan aku berencana ingin membelikan makanan untuk Hasan dan Husain.”

“Biar aku saja yang membelikannya. Berikan uangnya kepadaku!”

Fatimah pun memberikan uang tersebut.

Ali pun bergegas pergi membeli makanan untuk kedua anaknya. Di tengah jalan, ia ketemu dengan seorang laki-laki yang berkata, “Siapa yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih dan Yang Selalu Menepati Janji.”

Ali pun memberikan uang enam dirham tersebut kepadanya. Kemudian pulang ke rumahnya dengan tangan kosong. Fatimah yang melihat Ali pulang dengan tangan hampa langsung menangis.

“Mengapa kamu menangis?”

“Kenapa kamu pulang tanpa membawa sesuatu? Ke mana uang yang enam dirham tadi?”

“Isteriku yang mulia, aku telah meminjamkannya kepada Allah.”

Mendengar jawaban Ali, Fatimah berhenti menangis dan gembira. “Sungguh! Aku mendukung tindakannmu!”

Lalu Ali pun keluar rumah karena ingin bertemu Rasulullah SAW. Di tengah jalan, ia disapa seorang laki-laki, “Hai Abu Hasan, maukah kau beli untaku?”

“Aku tak punya uang,” kata Ali

“Bayarnya belakangan saja.”

“Berapa?”

“Seratus dirham.”

“Baik. Kalau begitu aku beli.”

Setelah diberikan untanya kepada Ali, dan Ali pun ingin kembali pulang meletakkan untanya di sekitar ruamhnya. Di tengah perjalanan, ia disapa seorang laki-laki.

“Hai Abu Hasan, apakah unta tersebut akan kau jual?”

“Ya.”

“Berapa?”

“Tiga ratus dirham.”

“Ya, aku beli.”

Lalu orang tersebut membayarnya dengan kontan 300 dirham dan mengambil unta tersebut.

Ali pun bergegas pulang ke rumahnya. Fatima tersenyum melihat wajah Ali yang sumringah.

“Kelihatan begitu gembira, apa yang terjadi, suamiku?”

“Isteriku yang mulia, kubeli unta dengan bayar tempo seharga 100 dirham. Lalu kujual lagi 300 dirham dengan kontan.”

“Aku setuju.”

Setelah berdialog di rumahnya, Ali pamit kepada Fatimah mau menemui Rasulullah SAW di mesjid. Ketika masuk masjid, Nabi SAW tersenyum melihatnya.

“Hai Abu Hasan! Akan kau yang lebih dahulu cerita ataukah aku terlebih dahulu?”

“Anda saja yang cerita, ya Rasul,” jawab Ali.

“Tahukah kamu siapa yang menjual unta kepadamu dan siapa yang membelinya kembali?”

“Tidak. Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

“Berbahagialah Ali. Kamu telah meminjamkan enam dirham kepada Allah. Dan Allah memberimu 300 dirham. Tiap satu dirham mendapat ganti 50 dirham. Yang pertama datang kepadamu adalah Jibril dan yang terakhir datang adalah Mikail.”

Subhanallah.......
Kang Lintas
 
Support : Berita Bogor | Berita Magetan | Berita Sragen | Lintas Daerah | Pulau Seribu | Jakarta Utara
Copyright © 2013. LINTAS SEDEKAH - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Sedekah Bareng
Proudly powered by Sedekah Bareng