Pengalaman ini ditulis oleh pembaca Vemale bernama Alma. Ia ingin
berbagi kisah dan pelajaran dengan pembaca Vemale lainnya tentang
keajaiban sedekah yang baru-baru ini dialami Alma. Yuk, kita simak
kisahnya.
Dear Vemale dan sahabat pembaca.
Nama saya Alma
dan saya sering membaca kisah inspiratif dari berbagai media.
Kisah-kisah itu sangat menyentuh batin dan membuat saya lebih
termotivasi untuk hidup lebih baik. Namun ketika kita mengalaminya
sendiri, rasanya seperti keajaiban, ya?
Saya punya pengalaman saat
saya masih sering bergulat dalam kehidupan masa remaja. Saya punya
uang, tapi tidak tahu cara menggunakannya. Begitu uang itu habis, saya
tidak sadar apa yang sudah saya lakukan.
Tiba-tiba sudah beli ini
dan itu yang sebenarnya tidak begitu saya butuhkan. Atau sudah masuk
perut dan bikin perut ini makin buncit. Sepertinya saya membeli
kesenangan dengan uang yang saya miliki, namun hal itu jarang saya
sadari dan tidak benar-benar membuat saya bahagia.
Saya hobi
browsing di internet. Suatu hari saya menemukan bacaan-bacaan dari
inspirator muda yang banyak muncul belakangan ini. Mereka mengisahkan
banyak pengalaman nyata tentang sedekah. Rata-rata intinya, 'kalau sudah
sedekah, nanti uangnya kembali lagi'. Itulah anggapan polos saya saat
itu.
Saya melihat blog-blog mereka dan menemukan banyak foto
orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kondisi saya sekarang.
Mereka sakit, mereka ingin sekolah lebih dari kondisi yang mereka miliki
saat ini. Saya tergerak ingin membantu meringankan masalah, ingin ikut
membuat mereka tersenyum dan berbagai alasan yang tak terjelaskan dengan
kata-kata.
Saya pun mulai menyisihkan uang, mungkin tidak banyak,
namun semoga bisa membantu. Menurut saya, meski kecil, ada sebuah
kebahagiaan dan kepuasan tersendiri ketika saya bisa berbagi dengan uang
yang saya miliki.
Di sisi lain, saya tidak banyak merasa bahwa
uang saya habis, meski pengeluaran saya bertambah. Ada keteraturan yang
terjadi dalam keuangan saya, bahkan bukannya berkurang, malah semakin
bertambah. Mungkin bukan dalam masalah jumlah, namun saya selalu bisa
merasa cukup.
Keajaiban Itu Ada
Saya percaya dengan
hukum sebab akibat. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Namun
saya tak pernah berpikir bahwa keajaiban akan datang pada saya .
Suatu
hari adik saya terlibat masalah utang hingga puluhan juta. Ia kalang
kabut mencari pinjaman. Sebagai kakak, saya pun turut membantu. Namun
kami bukan orang kaya yang punya banyak uang dan investasi.
Selama
satu minggu kami berpikir keras, mencoba mendapatkan tambahan uang.
Sebagian besar gaji, saya berikan pada adik saya. Saudara yang lain pun
ikut membantu. Untunglah orang yang terlibat kasus hutang dengan adik
saya mau memberikan toleransi waktu.
Sedikit demi sedikit kami
kumpulkan uang untuk menyicilnya. Untung saya terbiasa menyisihkan uang
untuk sedekah, jadi tak terasa berat. Untuk sementara, kami memang harus
tirakat. Menahan keinginan ngafe, karaoke, belanja ini itu. Lebih baik
susah sekarang, pikir saya, daripada kami harus jatuh kepada lubang yang
lebih dalam. Sayapun menyarankan pada adik agar lebih hati-hati
menggunakan uang.
Nominal uang itu sedikit-sedikit tidak etrasa
saat digunakan, namun tanggung jawabnya sangat besar. "Iya, Kak. Maaf
ya, Kak. Aku jadi nyusahin semua orang," kata dia dengan menyesal.
"Sudah terjadi, Dek. Buat pembelajaran saja," kata saya.
Rejeki
itu selalu datang tepat pada waktunya. Tibalah hari di mana kami hampir
tak punya uang lagi padahal sudah dekat jatuh tempo. Ternyata hari
tersebut bertepatan dengan hari pembagian bonus kerja yang alhamdulillah
bisa menutup kekurangan, bahkan lebih.
Seperti ada tangan lain
yang menyelesaikan permasalahan kami. Tak bisa dilihat, tapi bisa
dirasakan, seperti harapan dan keajaiban. Itulah apa yang saya pikirkan
saat itu.
Saya tidak bilang bahwa uang ini datang dari langit
sehingga saya katakan ini adalah keajaiban. Namun saya ingat kata bapak,
"Rejeki itu sudah ada jalannya sendiri. Memang harus diusahakan dan
sebisa mungkin yang barokah."
Jangan Takut Kekurangan
Dalam
hidup, uang itu penting. Saya akui itu. Lebih penting lagi, untuk tahu
bagaimana menggunakannya. Jangan blank saat berhadapan dengan apa yang
kita miliki. Manfaatkan sebaik mungkin.
Dan saya percaya hidup ini
harus dinikmati, tapi juga menjadi waktu mencari bekal untuk akhirat
nanti. Dulu saya takut miskin. Tentu saja, karena uang saya tak akan
pernah cukup untuk memenuhi keinginan saya yang tak terbatas.
Namun
berbagi dengan sedekah dan hati yang ikhlas tak akan membuat saya
miskin. Itu adalah tabungan saya untuk kehidupan di akhirat kelak.
Sumber : http://www.vemale.com



